Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Mengenal Syeikh Abdurrauf Al-Jawi Al-Fansuri As-Singkili (Teungku Syiah Kuala)

Abdurrauf Al-Jawi Al-Fansuri As-Singkili (1615-1693 M). Pengaruhnya yang besar bagi penyebaran Islam tak hanya di Aceh dan seantero Nusantara, tapi juga di dunia Islam. Di Aceh sendiri ia memiliki gelar sebagai Teungku Syiah Kuala. Dalam bahasa Aceh artinya Syekh Ulama di Kuala.
Gelarnya itu kemudian diabadikan dalam nama perguruan tinggi, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), di Banda Aceh. Bahkan di Aceh ada semacam peribahasa yang berbunyi:

“Adat di bawah kekuasaan almarhum (raja), sementara syariat (Islam) di bawah Syiah Kuala (Adat bak Po Teuemeureuhom, syarak bak Syiah di Kuala)"

Dengan pengaruh yang besar itu mestinya masyarakat Aceh Singkil meneladani ajaran dan laku As-Singkili. Sepulang dari menimba ilmu di jazirah Arab, As-Singkili kembali ke Aceh di masa pemerintahan Sultanah (Ratu) Safiyatuddin Shah. Saat itu kondisi Aceh masih dalam kecamuk.
Tak hanya terjadi perseteruan terkait paham wujudiyah atau Kesatuan Wujud (Wahdatul Wujud) dengan tokoh utamanya Hamzah Fansuri dan muridnya Syamsuddin As-Sumatrani, tapi juga eksekusi terhadap para penganutnya.

Mengenal Syeikh Abdurrauf Al-Jawi Al-Fansuri As-Singkili (Teungku Syiah Kuala)

Hal ini bermula saat Nuruddin Ar-Raniri sebagai mufti Kesultanan Aceh mengeluarkan fatwa bahwa paham wujudiyah sesat dan mereka yang menolak untuk tobat dianggap kafir dan layak dihukum mati.

Saat As-Singkili menggantikan Ar-Raniri sebagai mufti, perseteruan ini masih tetap berlangsung. As-Singkili didaulaut Sultanah Safiyatuddin sebagai Qadhi Malik al-‘Adil atau mufti yang bertanggungjawab atas masalah-masalah keagamaan.

Berbeda dengan Ar-Raniri, As-Singkili berupaya mendamaikan dua paham dan kelompok yang berseteru. Dalam ajaran dan lakunya, As-Singkili tak bernada polemik seperti Ar-Raniri.
Kendati ada beberapa aspek yang tak ia setujui terkait wujudiyah maupun ajaran Ar-Raniri ia memilih menyampaikan pendapatnya secara tidak kasar apalagi menyerang dan melakukan kekerasan.

Saat mengkritik Ar-Raniri, misalnya, ia tak menyampaikannya secara terbuka. Tanpa menyebut nama al-Raniri, ia mengingatkan umat Islam dalam kitabnya Daqa’iq Al-Huruf agar tidak mudah mengutuk seseorang sebagai kafir.

Sebaliknya, bisa jadi tuduhan itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Ia pun menyitir sebuah hadis:

“Jangan menuduh orang lain menjalankan kehidupan penuh dosa atau kafir, sebab tuduhan itu akan berbalik jika ternyata tidak benar”

Alih-alih mengambil kebijakan radikal seperti Ar-Raniri, ajaran dan laku As-Singkili begitu toleran. Dengan cara ini ia membuka jalan bagi resolusi konflik antara mereka yang pro dan kontra paham wujudiyah yang sebelumnya meruncing di Aceh.

Baginya, beragama tak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi. Seperti dalam karyanya tentang fikih, Mir’at Al-Tullab, ia tak hanya memperbincangkan masalah ibadah, tapi juga muamalat. Ini berbeda dengan Sirat al-Mustaqim karya al-Raniri yang hanya membahas ibadah dalam kitab ini.

Dengan karya ini pula As-Singkili menjadi tokoh pertama di Nusantara yang menulis mengenai fikih muamalat. As-Singkili juga dikenal sebagai penulis kitab tafsir Al-Quran pertama berbahasa Melayu yang terlengkap di Nusantara yang berjudul Tarjuman Al-Mustafid.
Apa saja warisan penting As-Singkili yang bisa dipetik masyarakat Aceh dan umat Islam pada umumnya? Bagaimana cara As-Singkili membangun kerukunan umat beragama di Kesultanan Aceh?

Berikut wawancara Achmad Rifki dari Madina Online dengan Guru Besar Tasawuf Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof. Dr. Asep Usman Ismail:

P : Adakah ajaran dan laku Abdurrauf As-Singkili terkait kerukunan umat beragama yang bisa menjadi pelajaran atau teladan bagi pemerintah juga masyarakat Aceh Singkil?

J : Abdurrauf Singkil adalah seorang sufi. Sejak dari awal beliau membangun sikap jalan tengah. Ketika terjadi perdebatan antara paham wujudiyah yang digagas oleh Hamzah Fansuri di satu pihak dengan Ar-Raniri pada sisi yang lain, Abdurrauf Singkil mengambil sikap di tengah. Sikap ini seharusnya bisa dikolaborasi bahwa pandangan tawasuf As-Singkili itu pandangan moderat (tawasuth) dan beliau mengambil sikap umat jalan tengah (ummatan wasathan). Untuk sekadar mengkafirkan saja As-Singkili tidak pernah melakukannya. Walaupun, misalnya, ada orang yang sudah sesat, As-Singkili tidak berani mengkafirkan. Padahal beliau seorang pejabat negara.

P : Selain seorang sufi, apa kedudukan atau jabatan As-Singkili saat itu?

J : Kedudukan beliau itu Mufti Kesultanan Aceh. Dalam kapasitasnya sebagai Mufti Kesultanan Aceh, beliau punya dua kewenangan jika diukur dengan konsep modern sekarang ini. Pertama, dia punya kewenangan untuk membuat undang-undang atau sebagai dewan fatwa. Kedua, dia punya kewenangan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang kalau sultan tidak melaksanakannya.
Jadi, jika dilihat dari konsep modern, dia punya kewenangan legislatif dan yudikatif sekaligus. Nah, dengan dua kekuasaan yang besar itu As-Singkili malah membangun sikap moderat. Menurut beliau, persoalan kufur dan iman itu tidak bisa dievaluasi oleh manusia.

P : Sebagai Mufti Kesultanan Aceh, kebijakan seperti apa yang As-Singkili terapkapkan waktu itu? Adakah hal-hal yang bisa diadopsi untuk pemerintah Aceh Singkil kini?

J : Sangat bisa!
Pertama, beliau menekankan sisi kekuatan integritas moral dan etika.
Kedua, kekuasaan yang besar itu tidak untuk memvonis seseorang salah dalam beragama.
Ketiga, As-Singkili sangat menekankan bahwa kerukunan itu menjadi kunci. Terutama waktu itu kerukunan di antara sesama Muslim yang menganut wujudiyah dan Muslim yang anti atau kontra dengan paham itu.

P : Konflik antara Hamzah Fansuri dengan Ar-Raniri itu sebenarnya konflik berbasis agama atau masalah kekuasaan?

J : Itu soal agama yang kemudian terkait dengan kekuasaan. Pada awalnya itu murni soal pemikiran dan paham agama. Tapi karena posisi Ar-Raniri sebagai pejabat agama, maka perbedaan pemikiran itu tidak hanya selesai di soal pendapat. Ar-Raniri kemudian memberikan fatwa dan meminta sultan untuk melaksanakannya. Fatwa itu berisi bahwa wujudiyah itu paham yang sesat. Kemudian setiap orang yang telah menganut paham wujudiyah diminta tobat. Apabila menolak untuk tobat, maka darahnya menjadi halal untuk dibunuh. Berikutnya, buku-buku terkait paham wujudiyah yang sudah ditulis tidak boleh disebarluaskan. Kalau terpaksa disebarluaskan, negara merampas dan membakarnya. Dan itu sudah dilakukan, baik eksekusi terhadap orang maupun buku. Itu dilakukan di halaman Masjid Baitul Rahman di Banda Aceh.

P : Begitu datang, As-Singkili justru menciptakan suasana yang damai di antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini. Apa warisan penting dari As-Singkili?

J : As-Singkili itu orang yang pertama menulis tafsir di Indonesia.
Tafsirnya bersifat moderat yang sekarang menjadi acuan di Departemen Agama. Saya belum meneliti lebih detail, tapi tafsir As-Singkili ini diteliti oleh Prof. Salman Harun. Tafsir itu sangat menekankan Islam yang "ummatan wasathan".

Sumber artikel : Sejarah Aceh
Read More

Mengenal Teungku Di Anjong - Salah Satu Ulama Besar Kerajaan Aceh

Sejak tiga tahun terakhir Gampong Peulanggahan, Banda, Aceh banyak dikunjungi pengunjung yang datang dari Persia, Malaysia, Jakarta, atau Medan. Mereka berziarah ke sebuah makam yang terletak persis di samping masjid Teungku Di Anjong di Gampong Peulanggahan, Banda Aceh.

Makam yang mereka ziarahi adalah makam seorang ulama yang berilmu tinggi dan kasyaf yang terkenal di Aceh dengan gelar Teungku Di Anjong. Khusus pengunjung dari Hadhramaut, para penziarah tersebut terdiri atas para ulama habaib yang masyhur seperti Habib Umar bin Hafidz dan Habib Kazim Assagaf dari pesantren Daarul Mustafa di Tarim, Habib Salim Assyathiri dan Habib Saleh bin Muhammad Alatas.

Sudah sejak lama memang makam ini sepi dari penziarah apalagi dari luar negeri. Namun, perhatian masyarakat kembali muncul pada 14 Ramadhan 1429 Hijrah (tahun 2008 M) sewaktu diadakannya kembali kenduri Teungku Di Anjong yang dilaksanakan oleh masyarakat Peulanggahan bersama Rabithah Alawiyah Provinsi Aceh.

Teungku Di Anjong adalah seorang ulama besar yang hidup pada masa kerajaan Aceh Sultan Alauddin Mahmud Syah, 1760 - 1781 M. Penobatan nama Teungku Di Anjong adalah gelar yang dianugerahkan dengan ungkapan Teungku yang “dianjong” yang berarti disanjung atau dimuliakan. Dalam versi lain juga dikatakan bahwa gelar Teungku Di Anjong diberikan karena ulama ini banyak menghabiskan ibadah dengan shalat, berzikir, shalawat dan membaca ratib di anjungan masjid yang bertingkat tiga.

Beliau dikenal sebagai ulama tasawuf, juga berperan sebagai ulama fikih dan telah membimbing manasik haji bagi calon-calon jamaah baik dari dalam wilayah kesultanan Aceh, Sumatera, Pulau Jawa, bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji melalui Aceh.

Peran Teungku Di Anjong dalam menyelamatkan kerajaan Aceh tertulis dalam naskah penelitian lapangan yang ditulis oleh Adnan Abdullah dari Pusat Pengembangan Ilmu Sosial Universitas Syiah Kuala (1987) yang mengemukakan tentang kejadian pada masa Sultan Alauddin Mahmud Syah.

Saat itu kerajaan Aceh mengalami defisit neraca pembayaran (utang) dalam jumlah besar kepada kerajaan Inggris. Hal ini sangat mencemaskan Sultan, karena menyangkut martabat kerajaan.
Konon kabarnya pula, meskipun semua hasil emas yang diperoleh dari tambang di Pariaman dikumpulkan, bersama-sama dengan seluruh kekayaan kerajaan, namun jumlahnya masih belum mencukupi untuk melunasi utang kepada kerajaan Inggris. Sultan kemudian diberi pendapat oleh majelis kerajaan agar meminta bantuan Teungku Di Anjong. Saran tersebut diterima dan dikirimlah utusan menghadap Teungku Di Anjong yang dibekali dengan seperangkat hidangan makanan untuk memuliakan ulama tersebut.

Mengetahui maksud kedatangan utusan, Teungku Di Anjong menyarankan agar persoalan ini dibicarakan dengan Teungku Syiah Kuala, mufti kerajaan Aceh. Namun, Teungku Syiah Kuala menyatakan ketidakmampuannya memenuhi permintaan Sultan dan beliau menyatakan bahwa hanyalah Teungku Di Anjong yang sanggup membantu Sultan. Teungku Di Anjong pun bersedia dan meminta untuk disediakan beberapa buah goni ke salah satu tempat di pinggir Krueng Aceh. Semua goni diisi dengan pasir dan diangkut ke Pantai Cermen, Ulee Lheue.

Sedangkan hidangan dari Sultan beliau kembalikan dengan pesan bahwa salah satu dari hidangan tersebut hanya boleh dibuka oleh Sultan sendiri. Ketika Sultan membuka hidangan itu, ternyata isinya emas dan permata. Begitu juga pasir dalam goni yang dibawa ke Pantai Cermen sudah berubah menjadi perak. Dengan logam mulia itulah Sultan Aceh membayar utang kepada kerajaan Inggris. Dengan demikian, martabat Aceh yang nyaris luntur karena tidak mampu membayar utang tetap terpelihara dalam pandangan kerajaan Inggris.

Nama sebenarnya Teungku Di Anjong adalah Al Habib - Sayyid Abubakar bin Husain Bilfaqih. Beliau berasal dari wilayah Hadhramaut, negeri Yaman. Kisahnya hingga kini masih diceritakan oleh para ulama habaib dari negeri asalnya Hadhramaut, seperti yang disebutkan para penziarah dari Yaman yang datang ke Peulanggahan. Manaqib tersebut menyebutkan bahwa kedatangan Teungku Di Anjong ke Aceh tidak langsung melalui Hadhramaut.

Beliau terlebih dahulu mempelajari dan mengamalkan secara sungguh-sungguh semua kandungan yang terdapat dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bersama dengan dua ulama lainnya di Madinah. Ulama yang pertama adalah Sayyid Abdurrahman bin Musthafa Alaydrus yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir dan yang kedua ialah Sayyid Syeikh bin Muhammad Al-Jufri yang berjalan menuju Malabar, India.

Masjid Teungku Di Anjong
Untuk melestarikan situs sejarah Islam di Banda Aceh, masyarakat Peulanggahan masih tetap menjaga bentuk bangunan masjid tersebut seperti sedia kala. Masjid dan makam ini kembali dibangun oleh BRR Aceh pada tahun 2009 dengan struktur beton, namun tetap menjaga bentuk awalnya dengan tambahan sarana lainnya seperti halaman aspal dan tempat wudhuk.

Status tanah bangunan masjid ini adalah tanah wakaf seluas situs 4 Ha. Sebelum mendirikan masjid, ulama ini terlebih dahulu memanfaatkan rumahnya (Rumoh Cut, atau rumah kecil) yang sangat sederhana sebagai tempat pengajian dan asrama bagi murid-muridnya yang memperdalam agama Islam dan bermalam di sana. Oleh karena perkembangannya semakin pesat, rumahnya tidak mampu lagi menampung murid- muridnya.

Mengenal Teungku Di Anjong - Salah Satu Ulama Besar Kerajaan Aceh

Akhirnya beliau mendirikan masjid yang bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan untuk bermusyawarah, kepentingan pengajian, dan lain-lainnya. Mesjid Teungku Di Anjong selain berfungsi sebagai sarana tempat shalat dan kegiatan - kegiatan ibadah lainnya, pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia masjid ini pernah dijadikan markas perjuangan kemerdekaan oleh laskar perjuangan Aceh dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah Belanda. Jadi masjid ini tercatat sebagai salah satu masjid bersejarah di Kota Banda Aceh. (Makalah Drs. Husaini Ibrahim, MA, 2006).

Masjid Teungku Di Anjong yang ada sekarang dahulunya dikenal oleh masyarakat dengan sebutan dayah yang terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama disebut dengan Hakikat, lantai kedua Tarekat, dan lantai ketiga Makfirat. Dayah ini pernah dibakar oleh Belanda karena dianggap sebagai pusat doktrin anti penjajahan (Tgk.H. Ibrahim Bardan, 2008).

Snouck Hurgronje, dalam bukunya The Atjehers, juga menyaksikan bahwa makam Teungku Di Anjong menjadi tempat melakukan tradisi Peuleuh Kaoy atau bernazar, dan mencatatnya sebagai makam ulama yang paling dihormati di Aceh.

Di kawasan masjid Teungku Di Anjong dahulunya juga dibangun semacam asrama untuk menampung jemaah haji yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Rumoh Raya. Bisa dikatakan bahwa gelar Aceh Serambi Mekah sangat erat kaitannya dengan peran Tengku Di Anjong dalam membimbing jamah haji yang mendapatkan dukungan kerajaan Aceh pada masa itu.

Sumber artikel : Sejarah Aceh
Read More

Teungku H.F.H. Ahmad Dewi Sang Pelopor Syariat Islam di Aceh

Teungku Haji Fakir Hakir Ahmad Dewi adalah seorang tokoh ulama pendakwah yang lahir pada tanggal 19 Januari 1951 di Dusun Bantayan, Gampong Keude, Kecamatan Darul Aman, Idi Cut, Aceh Timur. Ayahnya Teungku Muhammad Husen berasal dari Desa Meunasah Kumbang Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Kakeknya Teungku Hasballah yaitu seorang ulama dari Samudera Pasee yang digelar dengan nama Teungku Chik di Meunasah Kumbang.

Teungku Hasballah menguasai ilmu tafsir, bayan, fiqh, siyasah dan ilmu mantiq. Tokoh berbadan atletis ini terkenal sebagai ulama moderat yang menguasai dengan baik bahasa Aceh, Perancis dan Inggris. Ketajaman fikirannya dikagumi oleh kawan maupun lawan. Pada saat perang kolonial Belanda di Aceh berkecamuk, beliau ikut bergabung dengan mujahidin lainnya berperang di Samudera Pasee. Selain itu, beliau sangat ahli dalam ilmu faraid, ahli dalam hal dialog dan pidato, bakat ini sepenuhnya turun kepada Tgk Ahmad Dewi.
Teungku H.F.H. Ahmad Dewi Sang Pelopor Syariat Islam di Aceh
Tgk Ahmad Dewi

Ibunya bernama Dewi kelahiran Peudagee (Serdag Pedagai), Sumatera Utara, nama inilah yang kemudian menjadi nama belakang Teungku Ahmad Dewi. Nama lahir beliau adalah Ahmadullah, namun karena wajahnya yang mirip dengan ibunya, maka orang-orang mengaitkan dengan nama ibunya sehingga disebutlah Ahmad Dewi. Akhirnya beliau lebih dikenal dengan nama Ahmad Dewi dibandingkan dengan nama aslinya Ahmadullah.

Ahmad Dewi juga sempat menuntut ilmu disebuah pesantren yang dipimpin oleh Tgk H. Sofyan di Matang Kuli sekitar tahun 1968 sampai 1970, setelah itu ia kembali ke Idi Cut. Saat itu dayah MTI tidak aktif lagi sepeninggal Tgk Muhammad Thaib yang wafat tahun 1968 dan kiblat pendidikan di Idi Cut telah beralih ke Dayah Darussa'dah Idi Cut dibawah pimpinan Tgk H. Abdul Wahab. Pada masa ini Tgk Ahmad Dewi juga sempat belajar pada Tgk H. Abdul Wahab Idi Cut sambil bekerja mencari nafkah. Ketokohan sosok Teungku Ahmad Dewi menarik perhatian berbagai pihak dengan berbagai kepentingan.

Sebuah informasi menggambarkan bahwa Teungku Hasan Tiro juga sempat mengadakan pertemuan khusus dengan Teungku Ahmad Dewi di Jeunieb dalam masa-masa gerilyanya di Aceh. Ekses pertemuan ini pada tahun 1977, Tengku Ahmad Dewi pun ditangkap aparat keamanan dalam penggerebekan di Dayah MUDI, Mesjid Raya, Samalanga karena diduga terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Beliau ditahan di Markas Laksus Drien Meuduroe, Geulumpang Payong, Kabupaten Pidie. Selama dalam tahanan, masayarakat tiada henti mengunjungi beliau sampai akhirnya dipindahkan ke Banda Aceh (ditahan di daerah Lampineung). Pada masa ini beliau sempat diisukan telah meninggal dunia, masyarakat yang menjenguk tidak bisa bertemu beliau sehingga masyarakat di kampung-kampung melaksanakan shalat jenazah ghaib untuk Teungku Ahmad Dewi.

Pada hari sabtu, 1 Maret 1991 pukul 09.00 WIB, Tgk Ahmad Dewi menerima surat dari abangnya Tgk Muhsinullah. Ia diminta segera menjenguk abangnya yang sedang ditahan pasukan TNI di Tank Batre, Desa Alue Ie Mirah. Beliau berangkat dengan mengendarai mobil Chevrolet bersama supir bernama Asnawi.

Pada waktu itu Aceh berstatus siaga, operasi Jaring Merah dilancarkan di Aceh. Sejak kepergian hari itu, Teungku Ahmad Dewi tidak pernah muncul lagi diatas podium menyuarakan tegaknya syariat Islam di Aceh. Walaupun Teungku Ahmad Dewi telah tiada, pengikut-pengikut setianya selalu memperjuangkan agar di Aceh diberlakukan syariat Islam. Akhirnya pemerintah mengumumkan pemberlakukan syariat Islam dibumi Serambi Mekkah ini.

Namun beliau sebagai tokoh pelopor pemberlakuan syariat Islam di Aceh, sampai hari ini tidak diketahui dimana kuburannya. Beliau meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yaitu fatahillah, Fatimah Dewi dan Abdul Aziz yang kala peristiwa penculikan itu masih tiga bulan dalam kandungan. Nama Abdul Aziz merujuk kepada nama guru beliau di Samalanga (Abon Abdul Aziz Samalanga). Teungku Ahmad Dewi telah mewasiatkan nama ini sebelum kepergiannya. Beliau berpesan kepada isterinya jika anaknya laki-laki agar diberi nama Abdul Aziz.
Read More

Saiful "Cagee" Panglima Penyandang Empat Jabatan


Tahun 1998 seiring dengan reformasi yang digulirkan di Indonesia, Amiruddinpun telah memasuki babak baru kehidupannya. Dia mencatatkan diri sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). tahun itu merupakan tahun yang penuh dengan catatan penting sejarah Aceh, selain reformasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa mencapai klimaks, di Aceh sendiri pada 7 juli Panglima ABRI jenderal Wiranto mencabut status Aceh sebagai DAerah Operasi Militer (DOM) setelah 10 tahun diterapkan.

Awal perkenalan dengan Mirik, Saiful alias Cage masih sebagai prajurit biasa di Kamp 09 (Kosong Sikureung) Palu Beueh Awee Geutah. Saat itu yang menjadi pembesar di kawasan itu masih para desertir polisi seperti Husaini Franco, Razali dan beberapa orang lainnya. Saat masih sebagai tentara kecil di gerakan yang ia bela, Cage sudah dikenal berani dan nekat.
Saiful "Cagee" Panglima Penyandang Empat Jabatan
Cagee dan Petinggi GAM
Tahun 2001 GAM daerah III Wilayah Batee Iliek membentuk pasukan operasi khusus. Pasukan ini dibentuk oleh Teungku Batee yang bernama asli Husaini. Setelag pasukan itu dibentuk, eskalasi konflik semakin meningkat. Saat menjadi komandan pasuka operasi pada tahun 2002, kiprah Cage semkain dikenal karena kesukaannya bertempur. Ibarat kata, dia menyukai pertempuran melebihi kesukaan pada dirinya sendiri, dan pada tahun yang sama dia membentuk Kamp Gurkha di Gampong Darul Aman, Peusangan Selatan.

Kondisi semkain genting, dimana-mana aparat keamanan Indonesia sudah tersebar. Untuk mengefektifkan pergerakan dan memperkuat pertahanan pasukan, Cage kemudian memecah anggotannya menjadi tujuh regu. Dua diantaranya bernama regu Singa Bate yang dikomandoi oleh Mirik dan regu Geubina yang dipimpin oleh Obeng (Almarhum). "saat kondisi semakin genting, cage memecah kami dalam tujuh regu, saya sudah lupa nama-nama regu tersebut selain Singa Bate yang saya pimpin dan Geubina yang dikomandoi oleh Obeng, dia sudah almarhum" Kata Mirik mengenang masa lalu. Regu-regu tersebut terus bertempur melawan tentara pemerintah Republik Indonesia dengan cara mandiri. Hidup semakin sulit, logistik masih tersedia, namun terkadang makan beras mentah jadi pilihan, karena tempat persembunyian tidak boleh berasap.

Tahun 2003 Zona DAmai hadir di Aceh. Perwakilan GAM dan RI yang difasilitasi oleh Hendry Dunant Centre (HDC) meresmikan Zona Damai pertama di Indrapuri, Aceh Besar. kejadian itu terjadi pada tanggal 13 januari 2003. Pasukan Cage yang sempat terpecah disatukan kembali. Mereka kembali dikumpulkan di Kamp Gurkha. Ada persyaratan bahwa pasukan GAM tidak boleh berserak

Masa Darurat Militer
Menjelang penerapan Darurat Militer di Aceh, kondisi keamanan dan perpolitikan semakin memburuk. Para petinggi GAM dilapangan sudah tidak bisa lagi mengendalikan keadaan. Saat itulah Cage kembali tampil kedepan dengan menyandang empat jabatan sekaligus yaitu sebagai Panglima Daerah, Panglima Muda, Panglima Sagoe serta Komandan Operasi GAM.

Satu hari menjelang Darurat Militer (DM) disahkan (17/10/2003) pasukan TNI bergerak ke Ule Jalan Peusangan Seulatan. Mengetahui informasi pasukan pemerintah semakin mendekat, Cage memanggil semua pasukannya. Dalam rapat, mereka memutuskan untuk menghadang tentara yang datang dari seberang laut itu. Mereka kemudian menunggu kedatangan TNI di ujung jembatan Ule Jalan (seberang sungai).

Tak lama kemudian pecahlah perang yang dahsyat. Pertempuran kedua belah pihak anak manusia yang berbeda ideologi itu memakan waktu 8 hari 8 malam. Jumlah pasukan GAM bersenjata dalam pertempuran itu sekitar 80 orang. hari kedelapan penerapan DM pasukan GAM mundur dan bergerak ke Blang Mane Kecamatan Peusangan Selatan. Hari ke 9 DM, Cage kembali memecah pasukannya menjadi 2 kelompok yaitu Gurkha dan Singa Bate.

Sejak awal DM, pasukan Cage sudah terisolir dan kehilangan kontak dengan GAM yang berada dibawah. Satu bulan DM, Cage kembali memecah pasukan menjadi tujuh regu. Kembali dipecahkan pasukan tersebuh untuk terus memaksimalkan kekuatan dan meratakan pertahanan. Menurut analisa Cage waktu itu, taktik gerilya yang dimainkan tidak memungkinkan pasukan seluruhnya dikonsentrasikan pada satu titik pertahanan.

"Sejak awal penerapan DM, pasukan Gurkha sudah terputus hubungan dengan GAM yang berada dibawah. Sebab pasukan keamanan Pemerintah sudah berhasil mengisolasi kami dari hubungan luar. Sejak saat itu informasi tentang kami semakin sedikit yang tau," Kata Mirik sambil menghisap asap rokok dalam-dalam. kemudian dengan berat asap perusak kesehatan itu dihembuskan kembali ke udara.

Setahun darurat, Mualem (Muzakir Manaf) beserta Sofyan Daud. Nek Tu Peureulak, Cut Manyak dan petinggi GAM lainnya tiba di daerah basis pertahanan Saiful Cage. mereka dengan susah payah melalui jalan-jalan hutan menuju ke basis Kamp Gurkha utnuk mencari perlindungan. Saat itu kondisi pada petinggi GAM itu rata-rata kurus dan kurang sehat. Bukan saja para petinggi GAM yang mencari selamat ke wilayah Cage, GAM lain seperti pasukan dari Linge Aceh Tengah dan Pase juga merapat ke wilayah pegunungan tersebut.

Sejak kedatangan para petinggi GAM, perjuangan Cage untuk mempertahankan wilayah dari serbuan TNI semakin berat. Untuk memperkuat perlindungan, Cage membuat dua tim lagi. Saat melakukan upaya perlindungan terhadap Mualem, Cage tidak memberitahukan kepada khalayak. Bahkan banyak diantara pasukan GAM sendiri tidak tahu bahwa sang pimpinan berada didalam garus pertahanan mereka.

Setelah Tsunami pada tanggal 26  Desember 2004 menerjang dan meluluhlantahkan Aceh, kehidupan gerilyawan Aceh Merdeka semakin sulit. Sebab hampir semua wilayah pertahanan sudah diduduki oleh tentara pemerintah. Hampir setiap gampong yang ada di Aceh sudah didirikan pos-pos pertahanan satuan non organik baik dari unsur TNI maupun polisi.

Tanggal 27 Desember 2004 GAM secara sepihak menyatakan gencatan senjata dengan alasan demi kemanusiaan. Sebab hampir semua elemen baik sipil maupun militer sedang memfokuskan perhatiannya pada tindakan emergensi untuk menolong korban bencana.

Menjelang Mou Helsinki
Ketika dialog antara GAM dan RI yang difasilitasi oleh Crisist Management Initiative (CMI) semakin menunjukkan hasil positif, pertempuran sengit pecah antara pemerintah dengan pasukan Cage di daerah Gampong Darul Aman Peusangan Selatan. Pertempuran itu terjadi mulai jam 05.00 WIB (Subuh) sampai menjelang magbrib. Saat maghrib tiba, pasukan TNI mundur setelah seharian bertempur.

Pasukan GAM sendiri saat itu sudah berserak-serak karena bertempur. Cage sendiri terpisah dengan pasukannya. Saat itu 19 butir peluru sukses menembus tubuh sang Panglima. Peluru-peluru itu menembus pantat, bahu, paha, tangan dan tempat-tempat lain. Melihat tubuhnya telah dipenuhi lubang bekas bersarangnya peluru, Cage dengan pengalaman bertempur gerilya yang matang, mengikat dan menutup lukanya dengan tumbuhan hutan menjalar. Darah yang sempat keluar dipaksakan berhenti dengan ditutupi lubang tubuh yang penuh luka itu.

Dengan tubuh penuh luka, kemudia Cage merangkak ke rumah warga yang berjarak 300 meter dari lokasi pertempuran. Saat sedang merangkak, seorang gadis melihat dan kemudian membawa pulang kerumahnya untuk diobati. Tiga hari bersama si gadis, TNI datng lagi dan melakukan penggerebekan nemun beruntung, Cage berhasil diselamatkan dengan didandani seperti perempuan dan dibonceng dengan sepeda. Saat itu pasukan pemerintah tidak mengenalinya lagi.

Setelah disembunyikan ditempat ditempat yang lebih ama, disitulah Cage diobati sampai sembuh. Pasukan GAM sendiri saat itu tidak mengetahui kabar tentang Sang Panglima. Tidak ada yang bisa memastikan apakah dia hidup atau mati. Apakah terkena tembakan atau tidak.

Setelah sembuh, Cage kembali ke pasukannya. Saat itu isu akan terjadinya perdamaian semakin gencar. cage sempat membangun komunikasi dengan Bakhtiar Abdullah yang saat itu masih berada di luar negeri. Disaat itu dia baru tau bahwa lobi-lobi perdamaian semakin intensif dilakukan kedua belah pihak. cage merasa bahagia mendengar berita itu. Tak menunggu lama dia langsung mengumpulkan kembali pasukan Gurkha untuk memberitahukan berita gembira itu sekaligus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan. Kemudian tanggal 15 Agustus 2055 ditanda tanganilah pernajnjian damai di Helsinki Finlandia antara Pemerintah Indonesia dengan GAM.

"Saat itu wajah bang Saiful memancarkan rona kegembiraan. Padahal saya tau dia sangat menikmati peperangan ini, namun karena kecintaannya pada perdamaian lebih besar, maka dia gembira luar biasa" kata Mirik mengenang.

Beberapa hari setlah MoU helsinki, cage diangkat menjadi Panglima Wilayah Bate Ilik yang membawahi empat daerah, mulai D-I sampai D-IV. Dua bulan sesudah damai, Cage baru turun ke kota. Saat itu Muzakir Manaf selaku Mualem menghadiahkan satu unit speda motor ninja untuk Cage sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensinya dalam berperang dan bertahan dengan ideologinya.

Masalah Keuangan Kombatan
Lima bulan kemudian, Cae mendapatkan proyek yang diberikan oleh pasangan Bupati Bireun saat itu Mustafa Geuanggang-Amiruddin Idris. Proyek yang diberikan itu berupa pembangunan jalan Pulo Panyang Kecamatan Peusangan Selatan. kemudian olehnya, proyek itu dijual kepada kontraktor lain. Uang hasil penjualan proyek itu dibelinya mobil Estrada Double Cabin warna merah.

Perpecahan ditubuh GAM muali terjadi saat cairnya dana reintegrasi yang diluncurkan oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA) tahun 2006. Cage selaku Panglima membagikan uang tersebut kepada seluruh jajarannya. Namun dalam pembagian uang tersebut dia membedakan antara GAM yang bertahan dipusaran konflik dengan GAM yang melarikan diri keluar daerah. Untuk yang bertahan jatah diberikan lebih besar, sedangkan yang lari keluar daerah lebih sedikit.  Sehingga GAM yang mendapatkan jatah sedikit marah dan memberontak pada barisan Cage.

Ekses dari kejadian itu, Amirudin Husen dicopot dari jabatannya sebagai Panglima Wilayah. Sebagai penggantinya diangkatlah Dedi bin Hamzah. Setahun setelah itu GAM pecah kembali, mereka sudah tidak lagi sepaham. Melihat situasi ini, kalangan cerdik pandai agama dan petinggi GAM meminta Cage kembali naik sebagai Panglima, namun Cage menolak tawaran itu.

Tak hilang akal, cerdik pandai agama dan Irwandi kemudian kembali membujuk Saiful untuk menerima tawaran itu, akhirnya Cage lulu juga. Namun Cage membuat persyaratan yaitu dia akan bersedia jadi Panglima kembali dengan dibantu oleh cerdik pandai agama sebagai penasehat. Setelah mendapat kata setuju, diapun kembali ke "tahta: yang sempat dicopot paksa. Diantara cerdik pandai agama yang bersedia menjadi penasehat Cage adalah Abu Kuta Krueng, Waled Mudawali dan Abu Tumin Blang Blahdeh.

Saat Cage kembali ke puncak wilayah, semua lapisan pasukan mendukungnya, setelah GAM bersatu kembali, merekapun semakin mantap mendirikan partai politik tersendiri sebagai wadah perjuangan mantan kombatan. Setelah berproses dari partai GAM, Partai Aceh Mandiri yang kesemuanya ditolak oleh Kemenkumham, akhirnya dengan nama Partai Aceh (PA) mereka bisa merajai dunia "persilatan" politik ditataran Aceh.

Selain sangat tegas dalam bertinda dan menahkodai wilayah Batwe Iliek, Cage tidak pernah melupakan janda dan anak yatim korban konflik. Setiap meugang, dia selalu membagikan daging gratis untuk anak yatim korbna konflik diseluruh wilayah Batee Iliek, bahkan ada yang disekolahkan olehnya sampai perguruan tinggi.

Menolak Zikir dan Mendukung Irwandi
Cage menolak perintah komando saat pencalonan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf (Zikir) sebagai Cagub dan CAwagub Aceh. Dia dengan lantang menolak pencalonan itu karena dianggap tidak demokratis dan petinggi dikomando pusat telah berbuat sesuka hati dengan asal tunjuk. Cage beserta KPA di 13 wilayah secara bersama-sama menolak pencalonan duet "Zikir" yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai keterbukaan dan putusan bersama. Hanya empat wilayah yang mengakui dan mendukung putusan komando, dua diantaranya adalah Sigli dan Pase.

Setelah berdiskusi dengan beberapa kalangan, akhirnya Cage memutuskan untuk mendukung Irwandi sebagai calon gubernur. Jabatan Panglima Wilyaha Batee Iliek dikembalikan ke komando beserta dengan stempel. Pasca mendukung Irwandi, hubungan Cage dengan pihak komando semakin memanas.

Akhirnya pada jumat (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB, Cage menghembuskan nafas terakhirnya stelah timah panas dari senjata api jenis AK menembus bahu dan kepalanya. Dia menghembuskan nafas terakhir didepan warung kopi miliknya yang diberi nama sama seperti Kamp-nya dulu  yaitu Gurkha.

Amiruddin alias Saiful alias Cage merupakan salah seorang pelaku sekaligus saksi sejarah pergolakan Aceh melawan dominasi Jakarta. Banyak kisah yang telah ditorehkan oelh lelaki 42 tahun yang lalu di Gampong Pulo Panyang dusun Cot Kala Peusangan Selatan. Lalubagaimanakah lika-liku kehidupan sampai ? The Globe Journal mencatat lembali beberapa nukilan kisah yang dituturkan oleh Yusnaidi alias Mirik pada hari Senin (25/7) orang kepercayaan almarhum sampai ajal menjemput.
Read More

Tgk Ishak Daud Panglima Dari Peureulak

Tgk Ishak Daud lahir di Blang Geulumpang, Idi Rayeuk, Aceh Timur, Aceh 12 januari 1960 dan meninggal di Peureulak, Aceh 8 September 2004 pada umur 44 tahun. Beliau adalah panglima GAM wilayah Peureulak. Dia pernah dipenjara oleh pemerintah Republik Indonesia namun dibebaskan kembali pada masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid 21 mei 2000. Selanjtnya dia bergabung kembali dengan GAM dan meninggal pada suatu peristiwa penyergapan oleh TNI tahun 2004.
Tgk Ishak Daud Panglima Dari Peureulak
Tgk Ishak Daud

Biografi
Tgk Ishak Daud adalah anak pertama dari pasangan Muhammad Daud bin Tgk Basyah dan Nuriah. Semasa kecil, Ishak tinggal dilingkungan desa yang rata-rata hidup dibawah garis kemiskinan. Ayahnya bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibunya berjualan kue. Tgk Ishak Daud merasa tidak puas dengan kondisi itu, pada awal tahun 1984 saat usianya 24 tahun, Ishak memutuskan merantau ke Malaysia. Di negeri jiran itu, Tgk Ishak Daud bekerja serampangan sebagai kuli bangunan atau penjaga restoran. Karena tak tahan hidup seperti itu di malaysia, Tgk Ishak Daud memutuskan merantau ke Singapura, apalagi banyak orang Aceh di negeri itu. Sama seperti di Malaysia, Tgk Ishak Daud juga bekerja serabutan, mulai dari buruh bangunan sampai sopir angkutan. Di Singapura pula Tgk Ishak Daud mulai mengenal Gerakan Aceh Merdeka (GAM), apalagi saat itu banyak aktivis Aceh Merdeka menggelar pertemuan politik. Praktis, selama bekerja di Singapura Tgk Ishak Daud sering mengikuti pertemuan tersebut. Ini pula yang membuka wawasannya tentang sejarah Aceh. Pada juli 1987, Tgk Ishak Daud akhirnya disumpahkan oleh Tgk Abdullah Musa sebagai anggota GAM, apalagi Hasan Tiro yang mengendalikan GAM dari Swedia butuh pemuda Aceh untuk di didik pendidikan militer dan dikirim ke Libya. Tgk Isha Daud termasuk dalam rombongan 40 orang pemuda Aceh yang di kirim ke Libya. Sepulang dari Libya, dia singgah di Singapura selama 12 hari dan memutuskan pulang ke Aceh memlalui pelabuhan Tanjung Balai. Dari sana ia naik bus dan kembali ke kampung halamannya di Idi Rayeuk. Awalnya dia bekerja sebagai pedagang ikan dan diam-diam merekrut pemuda untuk terlibat GAM, Tgk Ishak Daud termasuk tokoh pertama yang mengibarkan bendera Aceh Merdeka di SMA Idi Rayeuk, Aceh Timur pada 4 Desember 1989 seteh pengibaran bendera di Gunung Halimun, Pidie yang dilakukan oleh Hasan Tiro pada 4 Desember 1976.

Meninggal Dunia
Pada 20 mei 1990, Tgk Ishak Daud menyerang pos ABRI di Buloh Blang Ara, Aceh Utara. Dalam penyerangan itu, dua tentara meninggal. Kelompok Tgk IShak Daud juga berhasil mengambil 22 pucuk senjata M-16 dan senjata jenis minimi. Untuk perbuatannya tersebut, Tgk Ishak Daud divonis 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Lhoksumawe. Sidangnya digelar di Sabang karena dalam beberapa persidangan sebelumnya, Tgk Ishak Daud dielu-elukan oleh simpatisannya. Saat itu, Tgk Ishak Daud disebut-sebut sebagai Kepala Biro Penerangan Aceh Merdeka. Namun, Tgk Ishak Daud hanya sempat menjalani hukuman 2 tahun saja, karena pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, tepat tanggal 21 Mei 2000 ia dibebaskan. Tgk Ishak Daud memutuskan kembali bergabung dengan GAM, posisi terakhirnya adalah sebagai Panglima GAM Wilayah Peureulak-Teumieng. Tgk Ishak Daud meninggal dalam sebuah penyergapan oleh TNI pada akhir tahun 2004. 
Read More